Mahkamah Agung Apresiasi Pembangunan Nias International Hospital

Sebelah kiri Hidayat Manao., S.H., M.H., Hakim Agung Mahkamah Agung RI & Sebelah kanan Prof. Dr. Fransiskus Faozisokhi Laia., Ph.D., President Director Nias International Hospital-FRANK PDKS International

INDONESIAKITA.ID, Jakarta – Pembangunan Nias International Hospital-FRANK PDKS International, yang berada di wilayah Kepulauan Nias, Sumatera Utara, termasuk dalam kategori daerah tertinggal, terluar, dan termiskin, bahkan tergolong penyumbang kemiskinan ekstrem.

Kini, masyarakat Kepulauan Nias sedikit lega dan terlayani dengan akan dibangunkannya Nias International Hospital (NIH). Beragam program yang diluncurkan langsung menyentuh dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Peningkatan infrastruktur publik terus digencarkan dalam upaya mengatasi ketimpangan pelayanan publik, secara khusus ketimpangan pelayanan kesehatan. Presiden Direktur Nias International Hospital Prof. Dr. Fransiskus Faozisokhi Laia, Ph.D mengatakan, pembangunan Nias International Hospital di Kepulauan Nias untuk menghadirkan dan memaksimalkan pelayanan kesehatan secara profesional dan berkeadilan.

“Kita punya bagian tatanan dalam perubahan kehidupan, baik secara nasional maupun secara global. Pasca pandemi kemarin menjadi sebuah perubahan yang terjadi saat ini, mulai dari kalangan masyarakat bawah terjadi satu perubahan secara drastis. Kita ambil bagian dari sisi pemulihan-pemulihan yang ada, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi kesehatan tapi kesehatan ini menjadi fundamental,” ujar pria yang akrab disapa Frank itu, saat melakukan Audiensi dengan Hakim Mahkamah Agung RI Hidayat Manao di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta Pusat (25/10).

Untuk itu, ia meminta kepada masyarakat memberikan dukungan agar pembangunan Nias International Hospital di bawah naungan PT FRANK PDKS International ini bisa segera dibangun dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dengan demikian, lebih diutamakan pembangunan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat karena pembangunan asasnya adalah untuk kesejahteraan masyarakat.

“Dalam hal ini, kita ambil peran mengadakan solusi terhadap persoalan yang terjadi dari masalah kesehatan. Dari persoalan tersebut, kita coba cari formula yang tepat apa yang cocok, kita ambil satu icon. Jadi saya berpikir, ini rumah sakit kita bangun di Kepulauan Nias,” ucapnya.

Menurutnya, dari persoalan-persoalan tersebut membuat dirinya termotivasi menggali untuk mencari tahu apa yang menjadi latar belakangnya. Dalam hal ini, Ia melanjutkan, mencoba membuat solusi dan bahkan bukan hanya di Kepulauan Nias, tapi lebih kepada jangkauan pada dunia internasional karena dari sisi anggaran kesehatan paling mahal.

“Kita telah mendapat apresiasi pada dunia internasional bahwa ini ada satu harapan untuk hidup. Kanker itu kan sudah tidak ada harapan, ketika terkena kanker ya sudah selesai,” ungkapnya.

Poinnya, kata Frank, lebih kepada sosialisasi yang artinya bisa diterima oleh dunia internasional dalam hal ini Amerika Serikat Gedung Putih (T.W.H) Penghargaan Program Pendanaan Pembangunan yang telah mendapat persetujuan terhadap program ini dari sisi kemanusiaan. Mengenai persetujuan pembangunan ini sekarang dalam tahap sosialisasi.

“Sosialisasi ini kita punya ramuan yang memang nanti menjadi bahan dan pengembangannya melibatkan universitas kedokteran dan beberapa layanan yang terkait. Rumah sakit ini sudah menjadi program dunia internasional melibatkan dan didukung oleh beberapa tokoh dan beberapa bangsawan di Eropa, ada satu komunitas perkumpulan uskup sedunia mendukung program rumah sakit ini dan ada di dalam rumah sakit ini sebagai penasehat. Ini butuh suatu proses dan waktu untuk sosialisasi, kita memiliki dasar hukumnya,” tuturnya.

Mengenai pembangunan rumah sakit ini, menjadi satu lembaga khusus murni di bidang kemanusiaan karena yang terlibat para tokoh. Jadi bukan hanya tokoh nasional, tapi juga tokoh dunia.

“Saya juga sudah sosialisasi, termasuk juga minta pemberitahuan kepada Bapak Presiden Jokowi dan mungkin minggu depan saya akan kirim surat ke Bank Dunia dan PBB terhadap sosialisasi ini. Dari konsep awalnya “Toward Indonesia New Normal”, ini perubahan tatanan kehidupan. Ini sesuatu hal yang berbeda,” katanya.

Ia menambahkan, dukungan tersebut sebagai pengakuan bahwa Nias International Hospital diakui oleh dunia internasional. Ada satu figur atau icon yang memang menjadi sekarang sudah mengarah dukungan ke Nias International Hospital.

“Kita punya program, research, dan prestasi. Mereka memberikan dukungan itu secara tertulis, termasuk juga rekomendasi dari PBB. Ini atas prestasi kita di dunia internasional didukung oleh 202 negara, sudah dapat persetujuan dari Amerika Serikat dan merekomendasikannya karena penyakit kanker adalah penyakit yang sangat berbahaya. Jadi, kemoterapi kita buat dengan penyembuhan secara alami,” imbuhnya.

Foto bersama Hidayat Manao., S.H., M.H., & Prof. Dr. Fransiskus Faozisokhi Laia., Ph.D.

Di tempat yang sama, Hakim Mahkamah Agung RI Hidayat Manao mengapresiasi karena telah mendukung dalam rangka pembangunan rumah sakit bertaraf internasional ini.

“Saya mendukung karena menurut saya ini pemikiran yang bagus arahnya. Bukan hanya soal rumah sakitnya saja tetapi harus disiapkan juga dengan tenaga SDM-nya khususnya dokter-dokter spesialis dan tenaga terampil. Juga disiapkan juga alat kesehatannya yang canggih yang memadai,” ujar Hidaya

Karena, menurutnya, tidak mungkin rumah sakit bertaraf internasional namun alat-alat kesehatan yang dimilikinya hanya sekadarnya. Karena untuk menunjang pelayanan peningkatan mutu di bidang kesehatan untuk rumah sakit bertaraf internasional.

“Supaya masyarakat yang ada di Kepulauan Nias maupun yang di luar Kepulauan Nias tidak perlu ke luar negeri untuk berobat. Jadi sudah disiapkan. Tentunya kami dari Mahkamah Agung RI sangat mendukung rumah sakit bertaraf internasional ini karena digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dalam hal untuk pelayanan kesehatan,” jelasnya.