Anggota IDI Sebut Kasus Dokter Terawan Jangan Sampai Menjadi Liar

Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI), James Allan Rarung menuturkan kasus pemecatan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) dr Terawan Agus Putranto sebagai anggota IDI jika dibiarkan berlarut-larut berpotensi besar ‘ditunggangi’ pihak-pihak yang memiliki kepentingan sesaat dan instan. Hal itu menurut dia, dapat membuat masyarakat terpengaruh oleh informasi yang berseliweran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk itu, James mengajak semua pihak untuk bersama-sama menenangkan gejolak masalah dan memberikan penjelasan terkait pemecatan Terawan tersebut.

“Jangan sampai kasus Dr Terawan menjadi ‘liar’, di mana bisa ditunggangi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu yang dapat menyebabkan masyarakat salah paham dengan para dokter atau IDI,” kata James dalam keterangannya di Jakarta, Senin (28/3), seperti dikutip Antara.

Dokter Terawan Tak Manfaatkan Membela Diri

James mengatakan bahwa Biro Hukum, Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) PB IDI sudah bekerja maksimal sebelum Muktamar XXXI PB IDI yang diselenggarakan di Kota Banda Aceh pada 22 hingga 25 Maret 2022. Menurut dia, saat itu Ketua Umum PB IDI diminta menggelar sidang untuk memberikan kesempatan kepada Terawan memberikan penjelasan sebelum ada pembahasan dan keputusan dalam Muktamar IDI Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Meskipun sebenarnya kesempatan diberikan Ketua Umum PB IDI itu menurut James, tak mendapat persetujuan MKEK karena sudah mereka putuskan. Namun karena perintah Ketua Umum kepada BHP2A untuk melakukan pembelaan sebelum Muktamar, akhirnya MKEK bersedia.

James melanjutkan, dua kali dilayangkan undangan kepada Terawan pada awal Maret 2022, sayangnya Terawan tidak menggunakan haknya untuk membela diri.

“Perlu diketahui oleh semua pihak, termasuk masyarakat bahwa tidak ada perbuatan kesewenang-wenangan oleh IDI dalam kasus ini. Semuanya sudah melalui proses panjang, jika ditambah dengan dua kali undangan terakhir untuk memberikan kesempatan kepada Dr Terawan menggunakan haknya untuk membela diri, totalnya sudah 3 kali sejawat Dr Terawan diundang,” katanya.

Dia berharap agar dalam proses ke depannya, Terawan dapat hadir apabila diberikan kesempatan sesuai Pasal 8 poin 4 ART IDI, sehingga semua pihak dapat tenang dan masalah bisa terselesaikan dengan baik.

Keputusan MKEK

Diketahui, Terawan diberhentikan secara permanen dari keanggotan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pemberhentian ini berdasarkan keputusan Muktamar XXXI PB IDI yang diselenggarakan di Kota Banda Aceh pada 22 hingga 25 Maret 2022.

Eks Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pusat IDI, Pukovisa Prawiroharjo mengatakan pemberhentian Terawan tersebut berdasarkan sidang khusus Muktamar.

“Yang memutuskan adalah sidang khusus Muktamar, bukan MKEK. Karena MKEK dan PB IDI saat itu sudah demisioner,” jelasnya melalui pesan singkat, Sabtu (26/3).

Pemberhentian Terawan dari keanggotan IDI merujuk pada surat tim khusus MKEK Nomor 0312/PP/MKEK/03/2022. Melalui surat tersebut diputuskan dan ditetapkan tiga hal.

Pertama, meneruskan hasil keputusan rapat sidang khusus MKEK yang memutuskan pemberhentian permanen sejawat Prof Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K), sebagai anggota IDI.

Kedua, pemberhentian Terawan dilaksanakan oleh PB IDI selambat-lambatnya 28 hari kerja. Ketiga, ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan yakni 25 Maret 2022. [gil]

Sumber: Merdeka.com