Pengusaha melihat pentingnya kebijakan tepat di tengah keterbatasan

Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan HIPMI dalam bukunya bertajuk "Setandan Gagasan Dalam Turbulensi Pandemi"

Indonesikita.ID – Pengusaha anggota HIPMI, Ajib Hamdani melihat pentingnya pemerintah menyiapkan kebijakan yang tepat di tengah keterbatasan anggaran akibat pandemi.

“Negara menghadapi berbagai pilihan sulit dalam mengambil kebijakan. Di satu sisi harus cepat dan tepat, sedangkan di sisi lain keterbatasan anggaran menjadi kendala tersendiri,” ungkap Ajib yang juga menjabat Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan HIPMI dalam bukunya berjudul “Setandan Gagasan Dalam Turbulensi Pandemi” yang diluncurkan, Minggu.

Menurut Ajib buku yang diluncurkan ini merupakan sumbang dan saran dari dari berbagai dinamika yang muncul selama pandemi COVID-19 dalam rentang Maret 2020 hingga Agustus 2021.

Di dalam bukunya Ajib menyoroti kebijakan pemerintah yang dilandasi jumlah penduduk besar menjadi optimisme menggerakan ekonomi.

Padahal jelas Ajib dalam bukunya ekonomi baru bisa bergerak sepanjang kebijakan yang disiapkan bisa selaras dan diterima semua pihak, kata Ajib.

Dalam ekosistem global maka komitmen bangga terhadap produk buatan dalam negeri seharusnya sudah ada di benak seluruh lapisan masyarakat sebab kalau tidak maka Indonesia hanya menjadi pasar bagi negara lain.

Optimisme lainnya, dalam pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI bersama DPR RI dan DPD RI, Presiden RI Joko WIdodo memberikan arahan untuk memperbaiki ekonomi nasional dari dampak tekanan pandemi.

Presiden menyebutkan ekonomi tetap dapat tumbuh di tengah pandemi karena 55 persen ditopang konsumsi nasional.

Hanya saja Ajib menambahkan pentingnya menyiapkan fondasi yang lebih kuat agar ekonomi segera tumbuh yakni melalui hilirisasi, investasi, dan ekspor.

“Dengan hilirisasi akan memberi nilai tambah komoditas sekaligus meningkatkan kemampuan pelaku ekonomi. Sedangkan investasi akan memberikan daya ungkit yang lebih besar bagi sektor usaha. Serta ekspor akan memberi dampak kepada keuangan negara,” urai Ajib.

Pemerintah sendiri menargetkan investasi Rp900 triliun bahkan Presiden meyiapkan instrumen pamungkas dengan membentuk Kementerian Investasi (semula BKPM).

Kementerian Investasi dibekali dengan UU 11 tahun 2020 dengan Cipta Kerja termasuk terobosan kebijakan online single submission (OSS) atau izin usaha terintegrasi secara elektronik.

Berikutnya, Presiden juga mendorong tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengacu kepada kontribusi sektor ini terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) mencapai Rp15.434,2 triliun atau 60 persen lebih.

Menurut Ajib perlu langkah-langkah kebijakan yang pro UMKM agar sektor ini dapat tumbuh dan berkembang secara alamiah.

Hal lain yang membuat pelaku usaha optimis adalah terwujudnya kemandirian pangan. Dengan jumlah penduduk nomor empat dunia sebanyak 240 juta jiwa maka sektor pangan menjadi isu utama.

“Dengan kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pangannya sendiri maka akan memutar ekonomi secara luar biasa. Sektor pangan perlu mendapat dukungan dari teknologi dan energi yang ramah lingkungan agar bisa berkesinambungan dalam jangka panjang,” jelas Ajib.

Serta hal iain yang penting lainnya yang mengundang optmisme komitmen pemerintah untuk mendorong tumbuhnya iklim kewirausahaan.

“Kebijakan ini sangat penting mengingat rasio pengusaha di Indonesia saat ini baru mencapai 3,47 persen, masih tertinggal dibanding negara tetangga seperti Malaysia sudah 4,74 persen, Thailand 4,26 persen, dan Singapura 8,76 persen.

Terkait buku yang diluncurkan, Aji mengatakan berangkat dari berbagai persoalan yang dihadapi kalangan usaha dan masyarakat di tengah pembatasan sosial akibat pandemi COVID-19.

“Berbagai pembatasan itu tidak hanya memukul masyarakat karena kehilangan mata pencahariannya, pekerja yang terpaksa menganggur, dan pelaku usaha yang tidak mampu lagi beroperasi. Hal ini mendorongnya untuk memberikan pandangan terhadap persoalan yang terjadi,” katanya.

Buku, jelas Aji, berisikan perca-perca gagasan dalam menghadapi pandemi yang terbit di media massa lantas dikumpulkan menjadi sebuah buku.