Fransiskus Faozisökhi L : Jangan Jadikan Isu Politik Dolar Amerika Terhadap Nilai Tukar Rupiah

Rupiah terus mengalami tekanan dari dolar Amerika Serikat (AS).
Perdagangan dolar AS baru baru ini sudah mencapai posisi Rp 14.897.
Waktu krisis 1998 nilai dolar AS berada di kisaran Rp 16.500.

Dalam hal itu Fransiskus Faozisökhi L, aktivis muda yang juga pengusaha muda, mengatakan “Kondisi tekanan dolar Amerika Serikat terhadap nilai tukar rupiah, itu wajar-wajar saja, karena negara kita negara berkembang, selain itu negara kita juga tergabung dalam perjanjian perdagangan bebas Ekonomi Asia (MEA) dan itupun biasa terjadi dalam negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia saat ini.”

Kemudian Fransiskus Faozisökhi L mengatakan, “Dengan kenaikan dolar ini, dampak secara ekonomi yang akan muncul kedepan, pemerintah sudah mengantispasinya, dan hal ini yang lebih tahu itu pemerintah, isu ini janganlah dijadikan icon untuk mengiring opini yang tidak sehat, tapi bersikaplah secara arif dan cerdas demi kebaikan kita berbangsa dan bernegara” tuturnya.

Dengan banyaknya isu miring akibat kenaikan dolar yang dinilai tidak sehat, yang bisa berujung ke ranah intoleran, ini muncul dari sebagian yang tidak setuju dengan pemerintah saat ini, yang selalu terus melemparkan Isu, sebagian berani mengeluarkan pernyataan atas kenaikan dolar, akan terulang lagi krisis ekonomi pada 1997/1998. “Isu itu sangat tidak sehat dan tidak beralasan” ujar Fransiskus Faozisökhi L dengan jelas.

Fransiskus Faozisökhi L menambahkan “Isu krisis moneter, tahun 1998 yang sering dijadikan isu, dinilai hanya untuk menjatuhkan lawan politik, apalagi sudah dekat pilpres 2019”.

Terkait isu krisis moneter tahun 1997/1998 ini juga sudah jelas, seperti dijelaskan oleh Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, “Kondisi Indonesia saat ini tidak mirip dengan era 97-98.” Menurutnya 20 tahun lalu ada masalah politik yang kuat dan terlalu runyam.

“Kalau sekarang itu Indonesia, sepenuhnya masalah ekonomi dan sentimen global,” kata Jahja kepada detikFinance, Selasa (4/9/2018) lalu .

Untuk itu Fransiskus Faozisökhi L mengharapkan, isu ekonomi ini tidak
dijadikan bahan untuk politik, meskipun di dunia politik semua cara
dihalalkan.

“Harapan saya jangan lah, Kalau NKRI hancur kan kita rakyat sama-sama menanggung rugi, padahal sekarang lagi bagus.

Menurut Fransiskus Faozisökhi L, kenaikan Dolar ini tidak dipungkiri, ada faktor eksternal atau global ini Indonesia masih bagus ekonominya, tidak ada yang mengganggu kepercayaan masyarakat,” ujarnya.

Fransiskus Faozisökhi L , lebih jelas menerangkan, kenaikan tembus Rp.14.897, ini Penyebabnya, saat ini nilai tukar sebagian negara berkembang cenderung terkoreksi terhadap dolar AS, namun kondisi ini masih sangat jauh dari krisis 1998,” ujarnya

Dia menjelaskan kondisi fundamental perekonomian Indonesia sekarang sangat berbeda dengan kondisi fundamental pada tahun 1998. “Saat itu krisis yang berawal dari krisis mata uang Thailand Bath juga diperburuk dengan pengelolaan utang luar negeri swasta yang tidak prudent karena sebagian utang luar negeri swasta tidak memiliki instrumen lindung nilai.

Terahir Josua mengungkapkan, saat itu penggunaan utang jangka pendek
untuk pembiayaan usaha jangka panjang, serta utang luar negeri yang
dipergunakan untuk pembiayaan usaha yang berorientasi domestik.

“Krisis utang swasta pada 1997-1998 tersebut yang mendorong tekanan pada rupiah di mana tingkat depresiasi rupiah mencapai sekitar 600% dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, yaitu dari Rp 2.350 per dolar menjadi Rp 16.000 per dolar,” Ungkapnya.

Terakhir Fransiskus Faozisökhi L mengatakan “Marilah menyikapinya dengan arif dan cerdas, persoalan keuangan dan ekonomi serahkan saja kepada pemerintah, merekalah yang lebih tahu langkah apa yang mesti dilakukan,” harap Fransiskus Faozisökhi L .***(AN)